|
II. PENGENALAN
SIG
2.1. Pengertian SIG
(a) Geografi.
Geografi berasal dari kata geo yang berarti bumi dan grafi yang berari
uraian. Dengan demikian geografi adalah uraian
tentang bumi. Dalam kontes GIS juga dapat diartikan spasial atau
keruangan.
(b) Informasi.
Informasi merupakan hasil pengolahan dari sejumlah data. Semua
informasi berasal dari data, tetapi tidak semua data merupakan
informasi.
(c) Sistem.
Sistem terdiri dari sub-sub sistem yang saling berinteraksi dan saling
bergantungan dalam suatu lingkungan dinamis untuk mencapai tujuan
tertentu.
(d) Sistem
Informasi Geografi.
SIG adalah satu teknologi sistem informasi yang digunakan untuk
memberikan informasi tentang permukaan bumi atau informasi keruangan.
Beberapa defenisi
GIS:
· Tomlison,
1972:
The common ground between information processing and the many field
using spatial analysis techniques.
· Burroughs,
1986: A
powerful set of tools for collecting, storing, retrieving,
transforming, and displaying spatial data from the real world.
· NCGIA,
1987: A
Computerized database management system for the capture, storage,
retrieval, analysis and display of spatial (locationally defined)
data.
· Cowen,
1988: A
decision support system involving the integration of spatially
referenced data in a problem solving environment.
· Environmental
Systems Research Institute, Inc., 1995:
An organized collection of computer hardware, software, geographic
data, and personnel designed to efficiently capture, store, update,
manipulate, analyze, and display all forms of geographically
referenced information.
Secara lengkap baca:
Charter, 2003, hal: 4-6; Prahasta, 2002, hal: 1-4; Palekahelu,
2004, hal: 10.
2.2.
Fungsi SIG
Carter (2002) menguraikan fungsi dari SIG antara lain:
(a) Akuisisi
dan verifikasi data. Fungsi ini mencakup digitasi,
penyuntingan/editing, pembangunan topologi, transformasi proyeksi,
konversi format data, pemberian atribut, dll.
(b) Pengolahan
Database. Fungsi ini mencakup pengarsipan data, pemodelan bertingkat,
pemodelan jaringan, pemodelan rasional, pencarian atribut, dll.
(c) Pengukuran
keruangan dan analisis. Fungsi ini mencakup operasi pengukuran,
analisis daerah penyangga/buffering, analisis tumpang tindih/overlay,
operasi konektivitas, dll.
(d) Penayangan
grafis dan visualisasi. Fungsi ini mencakup transformasi skala,
generalisasi, peta topografi, peta statistik, tampilan perspektif, dll.
Secara lengkap
baca: Charter, 2003, hal: 7-8.
2.3.
Lingkup Penerapan SIG
Prahasta (2002)
menguraikan lingkup penerapan SIG antara lain:
(a) SIG
sangat efektif di dalam membantu proses-proses pembentukan,
pengembantan, atau perbaikan peta mental (peta mengenai gambaran
“lingkungan” sekitarnya yang tersimpan di dalam pikiran setiap manusia
yang mencerminkan pengetahuan, prasangka, dan/atau anggapan individu
yang besangkutan) yang telah dimiliki oleh setiap orang yang
menggunakannya dan selalu berdampingan dengan lingkungan fisik dunia
nyata yang penuh dengan kesan visual.
(b) SIG
dapat digunakan sebagai alat Bantu utama yang interaktif, menarik, dan
menantang di dalam usaha-usaha untuk meningkatkan pemahaman,
pengertian, pembelajaran dan pendidikan mengenai ide-ide atau
konsep-konsep lokasi, ruang, kependudukan dan unsure-unsur geografis
yang terdapat di permukaan bumi, berikut data-data atribut terkait
yang menyertainya.
(c) SIG
menggunakan baik data spasial maupun data atribut secara terintegrasi
hingga sistemnya dapat menjawab baik pertanyaan spasial maupun non-spasial.
(d) SIG
dpat memisahkan dengan tegas antara bentuk presentasi dengan data-datanya
sehingga memiliki kemampuan untuk merubah presentasi dalam berbagai
bentuk.
(e) SIG
memiliki kemampuan untuk menguraikan unsure-unsur yang terdapat di
permukaan bumi ke dalam bentuk beberapa layer atau coverage data
spasial.
(f)
SIG
memiliki kemampuan dalam memvisualisasikan data spasial berikut
atribut-atributnya, antara lain modifikasi warna, bentuk dan
ukuran-ukuran symbol untuk merepresentasikan unsure-unsur yang ada
pada permukaan bumi.
(g) SIG
dapat menurunkan data-data secara otomatis tanpa keharusan untuk
melakukan interpretasi secara manual.
Penerapan SIG
mencakup berbagai bidang, antara lain:
(a) Bidang
Perencanaan Kota seperti tata kota, kesesuaian lahan, pembangunan
ekonomi, perhitungan pajak;
(b) Bidang
Politik, seperti redistrik wilayah administrasi, analisis hasil
pemilihan umum legislative/presiden, prediksi kekuatan politik;
(c) Bidang
Management Lingkungan, seperti monitoring dan analisis dampak
lingkungan, modeling air permukaan, pengelolaan sumber air;
(d) Bidang
Administrasi Pendidikan, seperti proyeksi angka partisipasi pendidikan
masyarakat, penentuan lokasi sekolah;
(e) Bidang
Teknik Sipil, seperti perencanaan pembangunan fasilitas jalan;
(f) Bidang
Bisnis, seperti analisis demografi, analisis penetrasi pasar, seleksi
wilayah;
(g) Bidang
Pelayanan Kesehatan
(h) Lain
sebagainya.
Penerapan SIG pada
beberapa bidang dapat dilihat pada beberapa contoh berikut ini:
Contoh - 1:
Penggunaan SIG dalam pemetaan Land Unit System di Kabupaten Timor
Tengah Selatan, Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Gambar di atas
menujukkan kemampuan SIG dalam memberikan gambaran serta persebaran
dari 21 Land Unit System yang ada di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
SIG memberikan kemudahan baik dalam melakukan analisis secara cepat
tentang dominasi Land Unit System yang utama, maupun dalam analisis
detail tentang jenis, luas, serta pola
distribusinya dari setiap unit system yang ada di wilayah ini.
Contoh - 2:
Penggunaan SIG dalam Analisa overlay antara layer Land Unit System dan
layer administrasi pemerintahan desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan,
Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Gambar di atas
menunjukkan kemampuan SIG dalam memetakan Land Unit System yang ada di
Kabupaten Timor Tengah Selatan pada tingkat desa.
Dengan SIG dapat
diketahui secara baik inforasi Land Unit System yang ada di setiap
desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan melalui overlay dua
layer, yakni: layer Land Unit System dan layer wilayah administrasi
desa.
Contoh - 3:
Penggunaan SIG dalam pemetaan data curah hujan menurut stasiun
pengambatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Propinsi Nusa Tenggara
Timur.

Gambar di atas
menunjukkan kemampuan SIG dalam memetakan informasi curah hujan bulan
dari setiap stasiaun pencatatan curah hujan yang ada di Kabupaten
Timor Tengah Selatan. Dengan analisis buffer, dapat diketahui secara
cepat tingkat curah hujan pada seluruh wilayah di Kabuapaten Timor
Tengah Selatan.
Contoh - 4:
Penggunaan SIG dalam pemetaan tingkat ketersediaan air tanah yang
dirasakan pendudukan di setiap desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan
pada pada bulan Oktober s/d Desember 2003.

Dengan SIG,
informasi pergeseran ketersediaan air tanah antar bulan dapat di
presentasikan secara lebih baik sehingga mempermudah pengaturan
pengetasan masalah kecukupan air di setiap desa dengan memperhitungkan
ketersebaran wilayah, luas wilayah, serta potensi-potensi yang ada
pada wilayah yang memiliki sumber air tanah yang cukup.
|